19 Januari 2009

Kehidupan 1 - Parjo Kates kehilangan sepeda

Malam 1 Suro, di kotaku, Solo, selalu ramai dengan kirap pusaka & kebo bule.
Hampir di semua jalan penuh dengan manusia pada malam itu.

Parjo Kates, tetanggaku ikut berkeliling dengan sepeda onthelnya di sekitar Sriwedari.
Dikayuhnya sepedanya pelan-pelan, karena memang nggak mungkin bisa kencang, karena banyaknya orang.

Suatu saat, ada orang yang ingin mbonceng sepedanya, namun karena dia berpikir cerdas, maka permintaan itu diterima dengan syarat, bukan orang tersebut yang mengayuh, Parjo Kates yang mbonceng di belakang.

Saking banyaknya orang, sumpek juga jalanan, sehingga Parjo Kates turun agar sepeda tidak jatuh.
Tanpa disadari, ternyata dia sudah terpisah dengan orang yang mengayuh sepedanya. Dicari-cari juga susah, karena banyak orang.

Apes, bagi Parjo Kates, "kecerdasannya" berujung sial, kehilangan sepeda.

Dikdas 2 - Cara cerdas agar terlihat memperhatikan

Saat Dikdas, di kelas adalah saat yang sangat berat.
Bukan apa-apa, setelah olahraga pagi, mandi, makan pagi, baris sebentar, maka yang tersisa adalah 'capai', karena tiap malam juga ada latihan fisik.
Paling enak di kelas adalah ... tidur.

Berbagai cara saya tempuh, mulai dari push-up, makan telur, minum kopi dll.
Namun setelah push-up, telur habis, kopi habis, tinggal kantuk yang tersisa.
Teman-temanku selalu bertaruh, bahwa aku tidak akan bertahan melek 5 menit, dan memang mereka selalu benar.
Jadi, bagaimana pelajaran bisa masuk kalau di kelas tidur terus?
Biasanya, aku kalau malam agak susah tidur sehabis apel malam.
Aku membuat rangkuman (mirip krepekan), bahkan aku rekam.
Saat baris ke kelas, aku baca rangkuman tsb sambil mendengar rekaman (saat itu walkman masih primitif).
Dan hasilnya lumayan, setiap test, nilainya tidak di bawah rata-rata (bisa ditiru bagi mereka yang mengalami masalah yang sama) .

Saat di kelas, ada cara jitu untuk mengelabuhi mentor/pengajar.
Suatu saat, aku jadi ketua kelas, dan duduk di depan.
Seperti biasa, 5 menit aku sudah pulas.
Agar terlihat memperhatikan, saat melek sebentar, aku buka bukunya, membaca sebentar, langsung bertanya "Pak, bla - bla ini maksudnya bagaimana?".
Pengajarnya menjawab, "Mas, itu ada di halanman 46, kita baru di halaman 16".
Kontan saja, aku jadi bahan tertawaan.
Inginnya terlihat cerdas dan perhatian, tapi malu kudapat.
Terbitkan Entri

Dikdas 1 - Hantu kurang ajar

Dikdas (fisik) masuk PT Indosat kami jalani bulan Pebruari - Mei 1992.
Kami menempati mess di G7, dekat Waduk Jatiluhur.
Waduk Jatiluhur ini konon adalah waduk buatan yang pembuatannya dengan menggunakan dinamit untuk meruntuhkan bukit-bukit. Banyak nyawa melayang dalam pengerjaanya.
Cerita orang-orang di sekitar memang menakutkat, ada yang ditakuti dengan kepala tanpa badan, ada yang tertidur saat menonton TV, saat bangun sudah 'dipindah' ke tempat lain.

Di mess kami, sering teman-teman di G6 saat malam mendengar kami sedang mencuci, padahal malam itu tidak ada yang mencuci. Jadilah anggota di mess kami, jadi ngeri juga.

Muwasiq, teman termuda kami, suatu pagi bercerita saat kami akan apel pagi.
Diceritakan, bahwa ada yang menendang pantatnya, padahal Yulianus, teman sekamarnya tidur pulas. Dan tidak sekali saja dia ditendang pantatnya. Jadilah itu bumbu untuk alasan menjadi lebih takut. Dan semua percaya.

Suatu saat, Yulianus bercerita, bahwa dialah yang menendang pantat Muwasiq, sambil senyam-senyum dia.

Sontoloyo ... kami semua sempat takut juga.

Menwa 4 - Akal sehat

Ketika mendekati hari-H selesainya Latsarmil di Magelang, diadakah long-march dari Tempuran ke Secaba Magelang sebagai base-camp. Jarak (katanya) sekitar 23 Km.
Kami diminta mengisi ransel tentara dengan pasir, shg lumyan berat saat dibawa.

Tiba saatnya, kami dibawa ke Tempuran dengan melakukan berbagai kegiatan di sana, hingga sore.
Saatnya kembali ke Secaba, kami berbaris seperti layaknya pasukan.
Mula-mula memang rapi, namun lama-kelamaan jadi nggak beraturan, kulit bawah kaki banyak memar, panas, dan akhirnya berair karena bergesekan dengan sepatu. Luar biasa sakitnya kalau sudah seperti itu.

DI ransel kami, masih terbebani dengan pasir yang kami isi.
Namun ada teman kami, Nugroho, terlihat ranselnya agak kempes, padahal sebelumnya besar.
Jalannya juga tidak terlihat berbeban berat.
Ketika sampai di Secaba, kami bertanya, tas nya diisi apa?
Eh ... ternyata dia isi dengan roti, di sepanjang jalan, apabila istirahat, roti dimakan.

Hebat ... akal sehat Nugroho ini.

Menwa 3 - Siapa takut?

Sigit, temanku, ikut pembaretan Menwa.
Sigit ini berbadan gemuk, hitam, agak pendek.
Saat mengikuti Caraka malam, dia ditakut-takuti oleh salah satu Danton senior di kuburan.
Dasar Sigit ini anak pemberani, saat ditakuti, dia tidak meraa takut sedikitpun (mungkin dia sudah siap, kalau di kuburan pasti akan ditakut-takuti).
Setelah ditanya ini itu oleh Danton yg tidak berhasil menakut-nakuti, Sigit melanjutkan perjalanan.

Tidak disangka, Sigit ternyata kembali ke kuburan dengan diam-diam.
Danton yang tadi menakut-nakuti, gantian ditakut-takuti SIgit dari belakang.
Kontan saja, Si Danton kaget bukan kepalang, karena tidak menyangka ada calon Menwa yang 'kurang ajar'. SI Danton lari terbirit-birit.
Bayangin saja, dengan badan gemuk agak pendek, dan hitam, tahu-tahu ada di belakang Si Danton.
Sigit tertawa terpingkal-pingkal.

Memang jagoan Sigit.

13 Januari 2009

Menwa 2 - Pocong

Acara jalan malam dimulai. Kami harus melewati sawah-ladang-kuburan di waktu malam.
Para pelatih bersiap menakutiku di area kuburan.
Aku jalan santai, tercium bau nggak enak khas kuburan.
Tiba-tiba, ada pocong yang jatuh dari pohon beringin.

Refleks, aku tangkap pocong, aku tarik talinya.
"He, sudah cukup, lanjut", terdengar teriak pelatih.
Ternyata ada pelatih yang ada di atas pohon yang menjatuhkannya.
Kalau aku tarik paksa, pastilah pelatih itu akan terjerembab mencium makam.

Hii.....

Menwa 1- Nggak jadi Kencing

Tahun 88, aku ikut PraLatsarmil (Pra Latihan Dasar Kemiliteran), yang menjadi agenda wajib bagi mahasiswa baru Politeknik Undip.

Angkatan 88, dibagi menjadi beberapa peleton dan dipimpin seorang DanTon (Komandan Peleton).
Saat latihan baris-berbaris, Imam, temanku (halo Imam, kalau sempat baca) minta ijin ke Danton untuk kecing di depan barisan.
"Lapor, siswa Imam, mohon ijin untuk kecing". Teriaknya (memang harus harus berteriak lantang).
"Baik, saya kasih waktu, 1 menit", jawab Danton.
Jawab Imam,"Tidak jadi!".
DanTon nya bingung, kok nggak jadi. Tapi ya dibiarin saja.

Setelah istirahat, kami bertanya, mengapa tidak jadi.
Imam menjelaskan, coba, untuk keluar lapangan harus jalan jongkok di depan Provost yang berada di pintu keluar, masih harus lari kencing, lama kecingnya, balik lagi harus jalan jongkok. Waktunya pasti lebih dari 1 menit".
Kalau kembali lebih dari 1 menit, akan dihukum push-up.

Pilihan yang tepat untuk menjawab "Tidak jadi!".